Liputan6.com, Jakarta – China Evergrande Group berencana kembali membayar atas produk-produk kekayaan wealth managementnya. Sayangnya, perusahaan raksasa properti itu terlilit utang sehingga mengalami krisis likuiditas. Pengamat mengatakan prospeknya masih suram hingga saat ini.

Unit wealth management Evergrande Group mengatakan ada beberapa cara untuk para investor jika ingin menuntut haknya. Bisa melalui aset properti, menghubungi konsultan investasi mereka terlebih dahulu, atau pergi ke situs penerimaan lokal. Saat pergi ke situs penerimaan lokal hendaknya membawa kartu identitas dan kontrak investasi untuk melakukan konsultasi dan transaksi.

Cara tersebut merupakan salah satu dari tiga opsi yang ditawarkan Evergrande dalam keterlambatan pembayaran produk wealth managemennya. Langkah itu diambil setelah ratusan investor dari seluruh China mendatangi kantor pusat perusahaan di Shenzhen untuk menuntut pembayaran kembali investasi mereka.

Totalnya mencapai CNY 40 miliar atau USD 6,19 miliar. Jumlah itu setara Rp 88,20 triliun (estimasi dolar AS terhadap rupiah di kisaran 14.249)

Selain itu, Evergrande mengusulkan rencana lain untuk pembayaran produk wealth management. Pembayaran dilakukan melalui angsuran tunai atau diganti dengan properti senilai hutang investor atas unit hunian (rumah) yang telah mereka beli.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Unit Wealth Management Evergrande Du Liang.Dengan begitu, investor akan secara khusus menikmati diskon sebesar 28-52 persen dari harga saat ini. Properti yang ditawarkan Evergrande untuk penebusan hutang seperti apartemen, toko dan tempat parkir.

“Bagi investor, apartemen tidak likuid layaknya uang tunai tetapi masih memiliki nilai yang cukup menjanjikan. Sehingga menjadi kemungkinan pilihan meskipun bukan hasil yang terbaik dan setidaknya bukan bukan hal yang terburuk,” ujar Shen Meng, Direktur Bank Chanson&Co yang berbasis di Beijing, dilansir dari Global Times, Senin (20/9/2021).

Masalah likuiditas Evergrande berasal dari gelembung kredit sebelumnya yang didorong ekspansi agresif pengembang ke beberapa sektor. Namun, setelah regulator memperketat aturan dan pengawasan saluran pembiayaan untuk mengendalikan penyimpangan, rantai modalnya menjadi tegang dengan likuiditas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

087742612228
SILAHKAN HUBUNGI KAMI
087742612228